Berada di Makkah dan Madinah membuat setiap jemaah ingin memanfaatkan setiap detik untuk beribadah di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi. Namun, semangat beribadah yang tinggi terkadang membuat jemaah lupa mengukur kemampuan fisik diri sendiri, hingga akhirnya jatuh sakit di tengah perjalanan.
Mengatur waktu antara ibadah dan istirahat adalah hal yang sangat krusial. Salah satu caranya adalah dengan membuat jadwal harian yang realistis. Jemaah tidak harus memaksakan diri berada di masjid sepanjang hari. Pilih waktu-waktu utama untuk beribadah di masjid, seperti saat shalat fardhu berjamah, lalu gunakan jeda waktu di antara shalat untuk kembali ke pemondokan guna beristirahat dan makan.
Kualitas tidur juga harus diperhatikan dengan cermat. Hindari kebiasaan begadang untuk hal-hal yang kurang penting, seperti mengobrol terlalu lama atau berbelanja hingga larut malam. Luangkan waktu untuk tidur siang sejenak (qailulah) di antara waktu Zhuhur dan Ashar jika memungkinkan. Tidur singkat ini sangat efektif untuk memulihkan energi dan menjaga fokus ibadah di malam hari.
Selain menjaga pola tidur, jemaah perlu mendengarkan sinyal dari tubuh sendiri. Jika merasa pusing, lelah luar biasa, atau menunjukkan gejala kurang sehat, segera kurangi aktivitas fisik dan beristirahatlah di kamar. Beribadah di pemondokan saat kondisi tubuh drop tidak akan mengurangi nilai niat dan ikhtiar jemaah di mata Allah SWT.
Dengan pengelolaan waktu yang bijak, fisik akan tetap fit hingga seluruh rangkaian rukun haji atau umroh selesai. Ibadah pun dapat dijalankan secara optimal, lancar, dan penuh kekhusyukan tanpa terkendala masalah kesehatan.